30 Mei 2007, momen yang
tidak akan terlupakan oleh memori seorang gadis kecil. Seorang gadis yang tidak
pernah mengenal akan cinta, sayang dan suka. Ia hanya tertegun saat seseorang
menyatakan cinta padanya. Cinta? Apa itu? Ia bertanya-tanya.
Sebuah liontin kucing berkilau pun terpasang
dilehernya. Melihatnya, hanya tertegun. Apa ini? Apakah ini sebuah lambang
cinta darinya? Cinta yang seperti apa? Seperti yang ia baca di manga-manga
romantis? Atau film-film yang melambangkan cinta.
Ia tersenyum, menganggukkan kepala. Dan mulai saat
itu, hidupnya, perasaanya, dunianya telah berubah dipenuhi dengan cinta. Ya,
Cinta.
Usai menaiki bianglala, untuk pertama kalinya mereka
bergengaman tangan. Hangat terasa. Senyum yang hangat berkembang diwajah
sepasang kekasih cilik itu. Ia pikir, lelaki muda itulah yang akan menjadi
pasangannya selamanya, sampai nyawa tak ada lagi di tubuhnya. Selamanya, tidak
akan pernah terpisah.
Akhirnya ia tersadar dari mimpinya. Lelaki pujaannya
telah hilang. Ia meninggalkan dunianya. Ia hanya bisa duduk diam dan menunggu
pangerannya untuk datang menjemputnya. Hari demi hari ia lewati melihat kearah
jendela apakah pangeran pujaannya akan kembali. Sia-sia.
Kenyataan makin menyadarkannya saat sebuah pesan
masuk ke dalam ponselnya. Ia menghianatinya, Ia menghancurkan dunianya, ia
menghancurkan cinta yang telah ia pelihara, ia menggantinya dengan khayalan.
Khayalan bahwa ia akan kembali lagi kepadanya.
Ini semua mimpi, pikirnya. Ia cubit tangannya, ia
tampar pipinya hingga merah. Ia tidak terbangun. Mimpi! Aku ingin terbangun!
Ini tidak mungkin! Ia terlah berjanji untuk bersamaku selamanya! Air mata pun
perlahan membasahi pipinya. Sampai kering air matanya pun pesan itu tidak
pernah berubah.Mengapa? Mengapa kenyataan itu harus datang saat ia tidak
memiliki pertahanan. Merobohkan segala sesuatu yang telah ia pertahankan. Ia
tidak memiliki pertahanan bahkan tujuan lagi. Yang ia tau, ia percaya bahwa
pangerannya akan kembali lagi kepadanya.
Yang ia inginkan hanyalah dia. Segala cara ia lakukan
untuk bertemu dengannya. Namun sia-sia
saja, pangerannya telah mengembara ke tempat yang sangat jauh dan
meninggalkannya sendirian. Sendirian, terpuruk, sedih, dingin dan kesepian.
Entah mengapa, hatinya tidak pernah berhenti untuk
mencintainya. Raganya pula mengikuti untuk tidak pernah berhenti mencarinya.
Dimana ia? Oh pangeran, cinta pertamaku, cinta sejatiku, aku merindukanmu.
Namun, takdir tidak pernah menjawab pertanyaannya. Semua
khayalan itu hanyalah angan-angan dan imajinasinya belaka. Ia telah bahagia
dengan putri yang ia temukan dalam perjalanan jauhnya itu. Senyum bahagia
terpancar dari wajahnya bersama putri lainnya. Gadis itu hanya bisa menerima, dan
ikut tersenyum untuknya.
4 tahun telah ia habiskan hanya terpaku pada satu
pangeran. Menghancurkan banyak hati lain
dan hanya berharap pada satu hati. Hati yang tidak akan pernah menyisakan
tempat lagi untuknya. Hati itu telah hilang dan tak bersisa lagi baginya. Hanya
hati yang lain bagi putri yang ia cintai sekarang.
Senyuman yang paling tuluslah yang dapat ia suguhkan
untuknya. Doa semoga ia bahagia yang dapat ia berikan untuknya. Namun tetap
dalam hatinya, ialah yang pertama. Kenangan itu tidak akan pernah hilang.
Untuk CINTANYA, YANG PERTAMA