Oh Pangeran

12:14 AM



                 30 Mei 2007, momen yang tidak akan terlupakan oleh memori seorang gadis kecil. Seorang gadis yang tidak pernah mengenal akan cinta, sayang dan suka. Ia hanya tertegun saat seseorang menyatakan cinta padanya. Cinta? Apa itu? Ia bertanya-tanya.
                Sebuah liontin kucing berkilau pun terpasang dilehernya. Melihatnya, hanya tertegun. Apa ini? Apakah ini sebuah lambang cinta darinya? Cinta yang seperti apa? Seperti yang ia baca di manga-manga romantis? Atau film-film yang melambangkan cinta.
                Ia tersenyum, menganggukkan kepala. Dan mulai saat itu, hidupnya, perasaanya, dunianya telah berubah dipenuhi dengan cinta. Ya, Cinta.
              Usai menaiki bianglala, untuk pertama kalinya mereka bergengaman tangan. Hangat terasa. Senyum yang hangat berkembang diwajah sepasang kekasih cilik itu. Ia pikir, lelaki muda itulah yang akan menjadi pasangannya selamanya, sampai nyawa tak ada lagi di tubuhnya. Selamanya, tidak akan pernah terpisah.
                Akhirnya ia tersadar dari mimpinya. Lelaki pujaannya telah hilang. Ia meninggalkan dunianya. Ia hanya bisa duduk diam dan menunggu pangerannya untuk datang menjemputnya. Hari demi hari ia lewati melihat kearah jendela apakah pangeran pujaannya akan kembali. Sia-sia.
                Kenyataan makin menyadarkannya saat sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ia menghianatinya, Ia menghancurkan dunianya, ia menghancurkan cinta yang telah ia pelihara, ia menggantinya dengan khayalan. Khayalan bahwa ia akan kembali lagi kepadanya.
                Ini semua mimpi, pikirnya. Ia cubit tangannya, ia tampar pipinya hingga merah. Ia tidak terbangun. Mimpi! Aku ingin terbangun! Ini tidak mungkin! Ia terlah berjanji untuk bersamaku selamanya! Air mata pun perlahan membasahi pipinya. Sampai kering air matanya pun pesan itu tidak pernah berubah.Mengapa? Mengapa kenyataan itu harus datang saat ia tidak memiliki pertahanan. Merobohkan segala sesuatu yang telah ia pertahankan. Ia tidak memiliki pertahanan bahkan tujuan lagi. Yang ia tau, ia percaya bahwa pangerannya akan kembali lagi kepadanya.
                Yang ia inginkan hanyalah dia. Segala cara ia lakukan untuk bertemu dengannya.  Namun sia-sia saja, pangerannya telah mengembara ke tempat yang sangat jauh dan meninggalkannya sendirian. Sendirian, terpuruk, sedih, dingin dan kesepian.
                Entah mengapa, hatinya tidak pernah berhenti untuk mencintainya. Raganya pula mengikuti untuk tidak pernah berhenti mencarinya. Dimana ia? Oh pangeran, cinta pertamaku, cinta sejatiku, aku merindukanmu.
                Namun, takdir tidak pernah menjawab pertanyaannya. Semua khayalan itu hanyalah angan-angan dan imajinasinya belaka. Ia telah bahagia dengan putri yang ia temukan dalam perjalanan jauhnya itu. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya bersama putri lainnya. Gadis itu hanya bisa menerima, dan ikut tersenyum untuknya.
                4 tahun telah ia habiskan hanya terpaku pada satu pangeran.  Menghancurkan banyak hati lain dan hanya berharap pada satu hati. Hati yang tidak akan pernah menyisakan tempat lagi untuknya. Hati itu telah hilang dan tak bersisa lagi baginya. Hanya hati yang lain bagi putri yang ia cintai sekarang.
                Senyuman yang paling tuluslah yang dapat ia suguhkan untuknya. Doa semoga ia bahagia yang dapat ia berikan untuknya. Namun tetap dalam hatinya, ialah yang pertama. Kenangan itu tidak akan pernah hilang.        
                Untuk CINTANYA, YANG PERTAMA

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images